Jumat, 24 Mei 2013

Ukhuwah Islamiah, Kenapa Tidak?


Ukhuwah Islamiah, Kenapa Tidak?

Segala puji hanya bagi Allah robb semesta alam. Dzat yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Dzat yang telah menjadikan Islam hanya satu-satunya dien di sisiNya. Dzat yang telah memberikan dua jalan untuk manusia; jalan yang penuh Hidayah dan jalan yang sesat. Barangsiapa yang telah Allah beri hidayah maka tidak seorang pun dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa Allah sesatkan maka tidak seorang pun yang dapat memberikan petunjuk padanya. Aku bersaksi tidak Illah kecuali Allah dan Muhammad adalah rosulNya.
Berbicara urgensi Ukhuwah islamiah, mari kita renungkan perkataan seorang ulama besar, Hasan Al Bashri, ia telah berkata :

"إِخْوَانُناَ أَغْليَ عِنْدَنَا مِنْ أَهْلِيْنَا، فَأَهْلُوْنَا يُذَكِّرُوْنَنَا الدُّنْيَا وَإِخْوَنُنَا يُذَكِّرُوْنَنَا الأخِرَةِ"


“kedudukan Ikhwan-ikhwan bagiku lebih berharga dari keluarga. Keluarga hanya akan mengingatkan kita kepada dunia, sedangkan ikhwan-ikhwan akan mengingatkan kita kepada akhirat .“

Ukhuwah islamiah sangat urgent terjalin di kalangan aktifis Islam. Ia membawa peran yang besar dalam ketsabatan seorang aktifis Islam. Namun ingat, jangan sampai ukhuwah islamiah ini disalahgunakan dalam berhubungan dengan lain jenis. Sungguh tidak dibenarkan seorang akhi mengantarkan seorang ukhti ke rumahnya, yang  dengan alasan ukhuwah islamiah keduanya telah berkholwat bahkan besentuhan antara keduanya.
Untuk mengetahui Ukhuwah islamiah lebih jauh mari kita kaji satu-persatu secara lebih mendetail.

I.      Ukhuwah Atau Ukhuwah islamiah

Kata Ukhuwah berasal dari kata akha. Misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan” (fulan menjadikan Sholih sebagai saudara). Selain kata ukhuwah, ada juga kata muakhah. Orang disebut akh anda, jika ia adalah orang yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan anda, baik saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, maupun saudara sesusuan.
Akh bisa juga berarti syarik (sekutu), penolong, penyerupa, sahabat setia, atau akh seseorang bisa berarti pengikut pendapat seseorang.
Adapun mengenai ukhuwah islamiah, Allah ta’ala telah berfirman:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” Ali Imroh: 103-104
Dua ayat yang berurutan di atas terdapat tuntutan-tuntutan yang harus dilaksanakan oleh orang-orang muslim yang menjalin ukhuwah dalam Islam:
-          Berpegan teguh kepada tali Allah, yaitu qur’an dan sunnah.
-          Menjauhkan diri dari perpecahan dan permusuhan.
-          Hendaknya hati kalian disatukan dengan rasa cinta karena Allah, sehingga bersaudara.
-          Memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

II.    Kedudukannya Dalam Qur’an dan Sunnah

A.   Allah ta’ala telah berfirman:
-          "Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa". { Az Zukhruf : 67 }
-          "Sesungguhnya orang-orang mu`min adalah bersaudara". ( QS Al Hujuraat : 10 )

B.   Rosulullah saw telah bersabda:
-          “Dari Nu`man bin Basyir Radiallahu Anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :’ Perumpamaan kaum Mu`min dalam cinta kasih dan kelemah lembutan mereka bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita,maka akan menjalar penderitaan itu keseluruh badan hingga tidak dapat tidur dan panas { HR Al Bukhari : 10/367, Muslim : 2586 }.
-          Dari Abi Hamzah Anas bin Malik Radiallahu Anhu pelayan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’ Tidak beriman seseorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. { HR Bukhari : 13, Muslim : 45, Ahmad : 3/176 }.

III.   Aktifitas Perjuangan Islam dan Ukhuwah islamiah

Beramal untuk memperjuangkan Islam merupakan kewajiban syar’I, baik yang berkaitan dengan individu secara khusus, jamaah, masyarakat, maupun pemerintahan, karena Allah telah memerintahkannya. Dalam firmanNYa;
“Dan katakanlah:"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan". At-Taubah;105
Tidak ada yang lebih besar bantuannya untuk keberhasilan dalam memperjuangkan Islam, dibanding apa yang diberikan oleh ukhuwah islamiah. Dengannya aktifis saling menolong, membantu, menanggung dan membela.
Aktifitas perjuangan islam ini memiliki perincian yang banyak, dan sebagai contoh dari perincian-perincian itu adalah:
-    Komitmen dengan ibadah, akhlaq dan adab yang diwajibkan Allah.
-    Komitmen dengan muamalat yang disyari’atkan Allah dalam masalah perdata dan sosial.
-    Komitmen dengan sifat-sifat yang terpuji yang harus kita miliki, dan sifat tercela yang harus kita tinggalkan.
-    Saling membantu dalam kebajikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan permusuhan.
-    Dakwah sesuai dengan syarat-syarat dan adab-adabnya.
-    Saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.

IV.  Tiga Pembagian Manusia

1.    Mereka yang mendapatkan wala’ secara mutlak; merekalah orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan RosulNya, yang melaksanakan syi’ar-syi’ar Islam yaitu dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan ikhlas karenanya.
2.    Mereka yang mendapatkan wala’ dari satu sisi dan mendapatkan baro’ di sisi lain; mereka itu adalah orang muslim yang bermaksiat dengan meremehkan sebagian kewajiban dan mengerjakan sebagian keharaman yang tidak sampai kepada kufur akbar.
3.    Mereka yang mendapatkan baro’ secara mutlaq; merekalah orang-orang musyrik dan kafir, baik mereka itu Yahudi, Nasroni, Majusi atau yang lainnya. Begitu juga orang-orang mukmin yang telah murtadz.

V.   Kendala Yang Dihadapi Dalam Perjuangan Islam

Secara global ada dua strategis yang serupa:
a.    Mendorong agar tidak berpegang teguh kepada aqidah dan prinsip Islam;
-          Menghiasi pandangan-pandangan yang berlawanan dengan Islam untuk mengelabui umat Islam.
-          Mempengaruhi umat Islam untuk hidup lebih mewah sehingga lupa dengan kebenaran.
-          Mendukung setiap system dan tatanan yang jauh dari Islam.
b.    Menteror siapa saja yang berdiri teguh diatas prinsip-prinsip dan aturan Islam;
-          menuduh Islam dengan sebutan jumud, reksioner, kolot, rancau, tidak mengikuti perkembangan zaman dll.
-          Mengintimidasi kaum muslimin dengan ancaman kemiskinan.
-          Menakut-nakuti kaum muslimien dengan hukum-hukum Islam: hudud dll.
-          Mendiskreditkan tatanan keluarga dan tatanan pendidikan dalam Islam.
-          Memukul gerakan-gerakan Islam dimana saja gerakan itu ada.


Maroji :
-    Dzahirah Do`ful iman, Sholih Al-Munajjid.
-    fiqih Ukhuwah, Abdul Halim Mahmud.
-    Madkhol Lidirosah  Aqidah Islamiyah, Ibrohiem bin Muhammad Al-Buraikhan.
-    Al-wala’ wal baro’ fie Islam, Muhammad Sa’id AL-Qohthoni.

UKHUWAH ISLAMIYAH

UKHUWAH ISLAMIYAH


Allah taala berfirman :
 “Dan (Allah-lah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).  Walaupun kamu  membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63).
Itulah ukhuwah Islamiyah, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya dan generasi berikutnya hingga pada masa kita sekarang ini. Walaupun seolah dengan berlalunya zaman, ukhuwah menjadi semakin rapuh, bahkan perpecahan yang tidak berkesudahan. Mereka menjalin persaudaraan yang demikian eratnya, bahkan lebih erat dari persaudaraan yang terlahir dengan garis nasab.

Makna Ukhuwah

            Dr. Abdullah Nasih Ulwan memaknai Ukhuwah sebagai kekuatan iman yang melahirkan perasaan kasih sayang yang mendalam, cinta, penghormatan dan rasa saling percaya, terhadap seluruh manusia yang memiliki ikatan aqidah Islamiyah yang sama dan juga yang memiliki cahaya keimanan dan ketaqwaan.
Jadi, ukhuwah merupakan sesuatu yang terlahir dari keimanan yang mendalam, dan juga merupakan buah dari ketaqwaan kepada Allah SWT. Bahkan seorang yang beriman apabila tidak memiliki rasa ukhuwah terhadap sesama muslim lainnya, maka imannya belum sempurna Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Keutamaan Ukhuwah

Pertama, Wajah orang yang berukhuwah akan bersinar.
Dari Umar bin Khatab ra, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku: “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah ?  Beliau menjawab, ‘mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah SWT, meskipun diantara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersdih hati.’ Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud)
Kedua, Akan diampuni dosa-dosanya.
Dari Salman al-Farisi ra, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang. Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan.” (Mu’jam al-Kabir VI/ 256)
Ketiga, Mendapatkan naungan Allah
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa Allah berfirman pada hari kiamat. ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku.? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di hari tiada naungan selain naungan-Ku.” (HR. Muslim)
Keempat, Mendapatkan cinta Allah
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga hal, yang apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan dapat merasakan manisnnya iman. Lebih mencintai Allah dan rasul-Nya dari pada apapun selain keduanya. Mencintai seseorang semata-mata hanya karena Allah SWT. Tidak menyukai kembali pada kekafiran, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka.(HR. Bukhari)

Cara Untuk Mempererat Tali Ukhuwah

Memberitahukan rasa cintanya kepada saudaranya.
Dari al-Miqdam Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang mu’min mencintai saudaranya sesama mu’min, maka beritahukanlah bahwa ia mencintainya (karena Allah SWT).” (HR. Abu Daud)
Mendoakan saudaranya
Dari Umar bin Khattab ra, aku meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk pergi umrah. Kemudian Rasulullah SAW mengizinkan aku dan berkata: “Jangan lupa wahai saudaraku doanya.” Beliau mengucapkan sebuah kalimat yang teramat membahagiakan, seakan aku memiliki dunia. (HR. Abu Daud)
Memberikan senyuman
Dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian menganggap remeh satu perbuatan baik sedikitpun, meskipun hanya memberikan senyuman kepada saudaramu.” (HR. Muslim)
Bersilaturahim
Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa Allah berfirman, ‘Cinta-Ku wajib diberikan kepada orang yang saling mencintai karena-Ku, kepada yang saling duduk karena-Ku, kepada yang saling mengunjungi (bersilaturahim) karena-Ku, dan yang saling berlomba untuk berkorban karena-Ku.” (HR. Ahmad)
Memberikan hadiah
Rasulullah SAW bersabda: "Saling mencintai dan saling memberi hadiahlah kalian." (HR. Baihaqi dan Thabrani)
Selain berbagai keistimewaan di atas, ukhuwah memilki nilai positif lain yang sangat luas, yaitu akan dapat mewujudkan persatuan umat. Karena dengan adanya ukhuwah, setiap muslim tidak akan memandang seseorang dari suku, negara, warna kulit dan lain sebagainya. Namun ia akan melihat seseorang dari segi aqidahnya. Siapapun ia, jika mentauhidkan Allah, beragamakan Islam, bermanhajkan al-Qur’an, berkiblatkan ka’bah, bersunahkan sunah Rasulullah SAW, maka ia adalah saudaranya. Dan setiap muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa menolong atau memiliki kepedulian terhadap kebutuhan dan kesusahan yang dialami saudaranya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka bukanlah ia termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Tabrani)
            Adapun pada zaman sekarang ini, berangkat dari ketiadaan ukhuwah, maka seolah tidak ada persatuan dan kepedulian terhdap urusan umat Muhammad saw. Sebagai contoh adalah masalah Suriah, kenapa kita harus peduli pada Suria? karena di Suria banyak umat Islam yang beriman kepada Allah yang kondosinya dalam keadaan sengsara,
Inilah sekelumit bahasan tentang ukhuwah, yang tentunya kita semua harus berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan berusaha mencoba mengamalkan kiat-kiat Rasulullah SAW dalam mempertebal rasa ukhuwah dalam diri kita masing-masing.

           


MERAIH HUSNUL KHATIMAH


MERAIH HUSNUL KHATIMAH


Husnul Khatimah : Menetapinya seorang hamba sebelum matinya karena menghindari kemarahan Allah Ta'ala. Taubat dari dosa dan maksiat, mengamalkan ketaatan dan perbuatan baik, kemudian setelah itu matinya dalam keadaan baik.[1]
Ia adalah akhir kehidupan yang baik, yaitu suatu akhir kehidupan yang selalu diharapkan manusia sebelum menghadap Allah SWT. Manusia yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah menunjukkan sebagai cermin akan memperoleh kebahagiaan di alam akhirat.[2]
Sesungguhnya Allah sudah mengingatkan seluruh kaum mukminin di dalam kitab-Nya akan pentingnya husnul khatimah. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran : 102)
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal)." (Al Hijr : 99)
Maka perintah untuk bertaqwa dan beribadah berlaku terus sampai mati agar meraih husnul khatimah. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menerangkan bahwa ada sebagian manusia melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan dalam usianya yang panjang, namun sesaat sebelum kematiannya dia melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang menyebabkan umurnya diakhiri dengan su'ul khatimah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Dalam hadits lain Rasulullah n bersabda :
"Janganlah seseorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah." HR. Muslim.[3]
PEDIHNYA MATI.
Rasulullah menyebutkan sakitnya mati dan pedihnya bersabda, "Rasanya sekitar tiga ratus sabetan pedang."
Ali bin Abi Thalib berkata, "Demi Dzat yang jiwaku di TanganNya, sungguh sabetan seribu pedang adalah lebih ringan daripada seorang yang mati di atas tempat tidurnya." Dan masih banyak ungkapan yang semisal dengannya.
Berbeda dengan orang yang mati di medan perang. Kematian mereka hanya terasa seperti dicubit dan mereka tidak disiksa di dalam kubur mereka. Rasulullah n bersabda :
"orang yang mati syahid tiada merasakan sentuhan kematian melainkan hanya seperti salah seorang di antara kalian merasakan dicubit." HR. At Tirmidzi, An Nasa'I, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban.[4]
Ada riwayat dari Ziyad An Numairi berkata :
"Aku membaca sebagian dari kitab bahwa kematian lebih keras atas seluruh makhluk."[5]
TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH.
Pembuat syari'at yang Maha Bijaksana telah memberikan tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan husnul khatimah (akhir yang baik) sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala dengan limpahan karunia dan anugerah-Nya. Siapa pun orang yang meninggal dunia dengan memperlihatkan salah satu dari tanda-tanda tersebut maka kabar gembira baginya.

Tanda—tanda orang yang mendapatkan kabar gembira itu (husnul khatimah) :
Pertama : Mengucapkan syahadat pada saat meninggal dunia.
Yang demikian di dasarkan pada beberapa hadits :
"Barangsiapa yang ucapan terakhirnya kalimat : Lailaaha illalllah maka dia masuk Surga." HR. Al Hakim dan perawi lainnya.
'Tidaklah satu jiwa meninggal dunia sedang dia bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan aku sebagai Rasul Allah. Dalam keadaan yang demikian itu dia kembali kepada hatinya yang benar-benar yakin, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya." HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lainnya.

Kedua : Mengalirnya keringat di dahi.
Yang demikian didasarkan pada hadits Buraidah bin Al Hashib.
"Bahwasanya dia pernah berada di Khurasan, lalu dia menjenguk salah seorang saudaranya yang tengah sakit dan dia mendapatkannya telah meninggal dunia. Ternyata dia mendapatkannya keluar keringat di dahinya. Maka dia berkata, "Allah Maha Besar, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Kematian orang Mukmin itu ditandai dengan keringat dahi." HR. Ahmad, An Nasa'i dan lainnya.

Ketiga : Meninggal dunia pada malam jum'at atau siang hari Jum'at.
Yang demikian didasarkan pada hadits :
"Tiadalah seorang Muslim meninggal pada hari Jum'at atau malam Jum'at melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur." HR. Ahmad, Al Fasawi dan At Tirmidzi.

Keempat : Mati syahid di medan perang.
Firman Allah :
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (Ali Imran : 169-171)
Mengenai hal ini terdapat beberapa hadits di antaranya :
"Di sisi Allah orang yang mati syahid itu mempunyai enam kriteria : Diberikan ampunan di awal kucuran darahnya, dia mengetahui tempat tinggalnya di Surga, dilindungi dari adzab kubur, diberi rasa aman dari peristiwa besar, dihiasi dengan perhiasan iman dan dinikahkan dengan bidadari serta diberi kesempatan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kerabatnya." HR. At Tirmidzi dan dia menilainya shahih. Ibnu Majah dan Ahmad.
Dari seorang sahabat Nabi bahwasanya ada seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin orang-orang Mukmin itu mendapatkan fitnah di dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?" Beliau bersabda, "Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah." HR. An Nasa'i dengan sanad shahih.





Kelima : Mati ketika dalam berperang di jalan Allah.
Dalam hal ini di dasari pada hadits :
"Apa yang kalian kategorikan sebagai orang yang mati syahid di antara kalian?" mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, barangsiapa terbunuh di jalan Allah maka dia mati syahid." Beliau bersabda, " Sesungguhnya jika demikian itu, maka hanya sedikit sekali para syuhada' di antara umatku." Mereka berkata, "Jika demikian lalu siapakah meraka itu, wahai Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Barangsiapa terbunuh di jalan Allah, maka dia itu mati syahid. Barangsiapa meninggal dunia di jalan Allah maka dia adalah mati syahid. Dan barangsiapa meninggal dunia karena sakit tha'un (penyakit pes) maka dia itu mati syahid. Dan barangsiapa meninggal dunia karena sakit perut, maka dia itu mati syahid. Dan orang yang tenggelam pun juga mati syahid." HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.

Keenam : Mati karena terserang penyakit Tha'un.
Mengenai hal ini terdapat beberapa hadits :
Dari Hafshah binti Sirin dia bercerita, "Anas bin Malik pernah berkata kepadaku, "Disebabkan oleh apa Yahya bin Abi Amrah meninggal dunia?" kukatakan : "Disebabkan oleh penyakit tha'un." Maka dia berkata, Rasulullah n bersabda, "Penyakit tha'un sebagai penyebab kematian syahid bagi setiap Muslim.
Dari 'Aisyah bahwasanya dia pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai penyakit tha'un, maka Nabi n memberitahukan, "Sesungguhnya ia merupakan adzab yang dikirimkan Allah kepada siapa yang dikehendakiNya, lalu Dia menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang Mukmin. Tidaklah seorang hamba terserang penakit tha'un, lalu dia tetap tinggal di negerinya dengan penuh kesabaran seraya mengetahui bahwa dia tidak akan terjangkit penyakit tha'un itu melainkan telah ditetapkan oleh Allah baginya, melainkan bagiya pahala seperti pahala orang yang mati syahid." HR. Bukhari dan Al Baihaqi dan Ahmad.

Ketujuh : Mati yang disebabkan oleh sakit perut.
Mengenai hal ini ada dua hadits :
"… Dan barangsiapa meninggal dunia karena sakit perut, maka dia mati syahid." HR. Muslim dan lainnya.
Dan dari Abdullah bin Yasar dia berkata, "Aku pernah duduk-duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin Urfuthah. Lalu mereka menceritakan bahwasanya ada seseorang yang meninggal dunia. Orang itu meninggal karena sakit perut. Ternyata keduanya pun ingin menyaksikan jenazahnya, maka salah satu dari keduanya berkata kepada yang lainnya, "Bukankah Rasulullah n telah bersabda.
"Barangsiapa meninggal dunia karena sakit perutnya, maka dia tidak akan diadzab di dalam kuburnya"? Yang lainnya menjawab, "Benar." Dan dalam sebuah riwayat disebutkan, "Engkau benar". HR. An Nasa'i, At Tirmidzi dan dia menilainya hasan.

Kedelapan dan kesembilan : Mati karena tenggelam dan tertimpa reruntuhan.
Dua point di atas didasarkan pada sabda Rasulullah n :
"Para syuhada' itu lima kelompok : Orang yang terserang penyakit tha'un, orang yang sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan danorang yang mati syahid di jalan Allah." HR. Al Bukhari, Muslim, At Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Hurairah.
Kesepuluh : Seorang wanita yang meninggal dunia semasa menjalani masa nifasnya atau disebabkan oleh melahirkan.
Bahwa Rasulullah n pernah menjenguk Abdullah bin Rawahah. Dia bercerita, "Dia tidak lagi bisa beranjak dari tempata tidurnya, maka beliau bertanya, "Tahukah kalian siapakah para suhada' di kalangan umatku?" mereka menjawab, "Orang Muslim yang terbunuh sebagai syahid." Beliau bersabda, "Jika demikian, syuhada' umatku itu sangat sedikit sekali."
"Terbunuhnya seorang Muslim itu adalah syahid, orang yang terserang penyakit pun syahid dan wanita yang meninggal dunia karena anaknya dengan anaknya masih di dalam perutnya juga syahid (dimana anaknya itu menarik ibunya dengan plasentanya menuju ke Surga)." HR. Ahmad, Ad Darimi dan Ath Thayalisi dan sanadnya shahih.

Kesebelas dan keduabelas : Mati terbakar dan terkena penyakit tumor.
Mengenai hal ini terdapat hadits :
"Para syuhada' itu ada tujuh kelompok selain yang terbunuh di jalan Allah, yaitu : orang yang mati terserang penyakit tha'un adalah syahid, orang yang mati tenggelam juga syahid, orang yang terserang tumor juga syahid, orang yang sekit perut pun syahid, orang yang terbakar juga syahid dan orang yang meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan pun syahid dan seorang wanita yang meninggal dunia yang sedang mengandung juga syahid." HR. Malik, Abu Dawud, An Nasa'I dan lainnya. Al Hakim berkata, "Bersanad shahih." Dan disepakati oleh Adz Dzahabi.

Ketigabelas : Mati karena terjangkit penyakit Tuberculosis (TBC).
Hal ini didasarkan pada sabda Nabi n :
"Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, wanita yang mati semasa nifas juga syahid, orang yang mati terbakar pun syahid, orang yang mati tenggelam juga syahid, orang yang mati karena penyakit TBC juga syahid dan orang yang meninggal karena sakit perut juga syahid." HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath dari Sulaiman yang di dalamnya terdapat Mandal bin Ali yang mengenai dirinya masih terdapat komentar cukup banyak dan dia juga tsiqah. Al Albani mengatakan, "Hadits ini diperkuat oleh hadits Rasyid bin Hubaisy.

Keempatbelas : Mati karena mempertahankan harta yang akan dirampas.
"Barangsiapa meninggal dunia karena mempertahankan hartanya (dalam sebuah riwayat : "Barang siapa yang hartanya diambil dengan jalan tidak benar lalu dia menyerang dan kemudian terbunuh) maka dia syahid. HR. Bukhari, Muslim dan lainnya.
Dari Abu Hurairah dia bercerita, "Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah seraya berkata, "Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang datang dan ingin mengambil hartaku?" Beliau n menjawab, "Jangan engkau memberinya." "Bagaimana menurutmu jika dia menyerangku?" tanyanya. Beliau menjawab, "Serang balik dia!" lebih lanjut dia bertanya, "Dan bagaimana menurutmu jika dia membunuhku?" Maka beliau menjawab, "Berarti kamu syahid." Dia bertanya lagi, "Bagaimana menurut pendapatmu jika aku membunuhnya?" Beliau menjawab, "Orang itu akan masuk Neraka." HR. Muslim, An Nasa'i dan Ahmad.

Kelimabelas dan keenambelas : Mati dalam mempertahankan agama dan jiwa raga.
Mengenai hal ini terdapat dua hadits :
"Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid. Dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka dia syahid. Dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan agamanya maka dia syahid. Dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka dia syahid." HR. Abu Dawud, An Nasa'I, dan At Tirmidzi dan dia menilai hadits ini shahih.
"Barangsiapa terbunuh karena menuntut atas kedzaliman yang dilakukan kepadanya maka dia mati syahid." HR. An Nasa'i dan Ahmad.
Ketujuhbelas : Mati karena berjaga di tapal batas (ribath) di jalan Allah.
Mengenai hal ini terdapat hadits :
"Berjaga di tapal batas satu hari satu malam lebih baik daripada puasa satu bulan dengan qiyamullailnya. Jika dia meninggal dunia, maka (pahala) amal yang pernah dikerjakannya itu akan terus mengalir kepadanya, rizkinya pun akan terus mengalir dan dia akan dilindungi dari fitnah." HR. Muslim, An Nasa'I, At Tirmidzi dan lainnya.
"Setiap orang yang mati akan disudahi amalnya kecuali yang mati dalam keadaan berjaga di tapal batas di jalan Allah, dimana amalnya akan terus dikembangkan sampai hari Kiamat kelak dan dia akan dilindungi dari fitnah kubur." HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan dia menilai hadits ini shahih dan rawi lainnya.

Kedelapanbelas : Mati dalam keadaan berbuat amal shalih.
Yang demikian didasarkan pada hadits :
"Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dalam rangka mencari keridhaan Allah maka hidupnya diakhiri dengan kalimat itu dan dia akan masuk Surga. Dan barangsiapa berpuasa satu hari karena mencari keridhaan Allah, maka ia dijadikan sebagai penutupnya bagi hidupnya, dia akan masuk Surga. Dan barangsiapa menyedekahkan suatu sedekahan karena mencari keridhaan Allah, maka sedekah itu dijadikan sebagai penutup hidupnya, dia akan masuk Surga." HR. Ahmad dari Hudzaifah.[6]
Meninggal dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Seperti meninggal dalam keadaan shalat, puasa, haji, berjihad atau berdakwah kepada Allah.
"Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia akan mengendalikannya." Dikatakan, "Bagaimana mengendalikannya?" Beliau bersabda, "Dia akan selalu beramal shalih sebelum matinya." HR. At Tirmidzi dan Al Hakim.

Kesembilanbelas : Seluruh kaum Muslimin memujinya dengan kebaikan.
Hadits dari Anas berkata, "Ketika lewat jenazah di depan orang-orang dan mereka memujinya dengan kebaikannya maka Rasulullah n bersabda, "Pasti." Kemudian lewat jenazah lainnya dan mereka membicarakan keburukannya maka Rasulullah n bersabda, "Pasti." Maka Umar bin Khaththab bertanya, "Apa yang dimaksud dengan pasti?" Beliau n bersabda, "Barangsiapa yang engkau berikan pujian kebaikan maka wajib baginya Surga. Dan barangsiapa yang engkau sebut keburukannya maka wajib baginya Neraka. Sedang kalian sebagai saksi Allah di muka bumi, Sedang kalian sebagai saksi Allah di muka bumi, Sedang kalian sebagai saksi Allah di muka bumi. Muttafaq 'alaihi.

Keduapuluh : Sebagian tanda-tanda yang dilihat sewaktu meninggalnya.
a.       Tersenyum di wajahnya.
b.      Mengangkat jari telunjuk.
c.       Bau harum, bersinar pada wajahnya dan bahagia dengan kabar baik yang disampaikan oleh Malaikat yang terpancar di wajahnya.[7]
d.      SEBAB MENDAPATKAN HUSNUL KHATIMAH.
Yang paling penting adalah seorang selalu menetapkan dirinya pada ketaatan kepada Allah dan bertaqwa kepadaNya. Asas dari itu semua adalah merealisasikan Tauhid, menghindari perbuatan-perbuatan yang diharamkan, bersegera bertaubat dari perbuatan dosa yang mengotorinya, dan yang lebih besar adalah syirik baik besar maupun kecil. Firman Allah :
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar." (AnNisaa' : 48)
Sebab lain adalah hendaknya seorang manusia berdo'a kepada Allah agar dimatikan dalam keadaan iman dan taqwa.
Sebab lain adalah hendaknya seorang muslin beramal dengan sungguh-sungguh dan kesungguhannya dalam memperbaiki yang nampak dan tersembunyi.[8]
Sepatutnya bagi seorang muslim untuk senantiasa mempersiapkan untuk menghadapi kematian yang datang dengan tiba-tiba, malam atau siang hari dan dalam keadaan tidur maupun terjaga. Oleh karena itu seorang muslim harus mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dengan perkara-perkara sebagai berikut :
Pertama : Senantiasa beriman dengan kalimat Tauhid dan mengamalkan tuntutannya.
Kedua : Senantiasa menjaga shalat lima waktu secara berjamaah, diiringi dengan sunah rawatib, nawafil, qiyamullail, menjaga witir dan menjaga sunah-sunah yang lain.
Ketiga : Senantiasa membaca Kitabullah, mentadaburi dan mengamalkan isinya. Menjaga dalam membacanya pada malam dan siang hari serta mengkhatamkan sekali atau dua kali dalam sebulan.
Keempat : Membaca perjalanan Rasulullah dan mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya.
Kelima : Senantiasa bermajelis bersama orang-orang shalih dan mengambil manfaat darinya untuk memperbaiki agama dan dunianya sesuai yang telah disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah.
Keenam : Bersemangat mendatangi majelis-majelis dzikir dan senantiasa mencarinya.
Ketujuh : Selalu menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar.
Kedelapan : Berinfaq di jalan Allah pada semua jalan kebaikan bagi siapa yang diberikan harta oleh Allah. Jika tidak memiliki harta, maka baginya sedekah dengan anggota badannya, karena setiap kalimat thayibah sedekah, senyum pada saudaranya adalah sedekah dan lainnya.[9]
Perlu di ketahui bahwa sesuatu yang nampak dari tanda-tanda ini atau yang terjadi pada mayit, tidak bisa dipastikan bahwa pelakunya adalah penghuni Surga, akan tetapi ia mendapatkan kabar gembira dengan itu. Sebagaimana jika tidak terjadi sesuatu pada si mayit, tidak menjadi hukum baginya karena ia bukan termasuk orang shalih atau yang semisalnya, semua itu adalah masalah ghaib, tetapi diharapkan bagi orang yang baik dan ditakutkan dari orang berdosa.[10]







[1] Husnul Khatimah wa su'uha, Khalid bin Abdurrahman Asy Syayi', hlm. 5.
[2] Kamus istilah agama Islam, N.A Baiquni dkk, hlm. 166.
[3] Husnul khatimah wasailuha wa alamatuha (terjemah), Dr. Abdullah Muhammad Al Mutlaq, hlm. 8.
[4] Al Jihad Sabiluna, Abdul Baqi Ramdhun (terjemah), hlm. 255.
[5] Syarhussudur, Imam As Suyuthi, hlm. 35.
[6] Ahkamul Janaaiz wa bid'uha, Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 35-43.
[7] Al Wijazah fi Tajhizil Janazah, Abdurrahman bin Abdullah Al Ghaits, hlm. 48.
[8] Husnul Khatimah wa su'uha, Khalid bin Abdurrahman Asy Syayi', hlm.10. Juga disebutkan di Husnul khatimah wasailuha wa alamatuha (terjemah), Dr. Abdullah Muhammad Al Mutlaq, hlm. 34.
[9] Al Wijazah fi Tajhizil Janazah, Abdurrahman bin Abdullah Al Ghaits, hlm. 40.
[10] Husnul Khatimah wa su'uha, Khalid bin Abdurrahman Asy Syayi', hlm.10.